Lagi menikmati secangkir cappucino hangat di kamarku yang sejuk, yang menyimpan banyaak sekali rahasia diriku yang tidak diketahui publik:).
So far, hidup terasa ambigu bagiku. Baru tahun lalu, aku merasa sirik sama satu keluarga yang kelihatannya diberkati Tuhan, hidupnya aman, sejahtera dan .. well done. So jealousy deh pokoknya. Dibandingkan dengan mereka, hidupku sepertinya gak ada apa-apanya. Gak henti-hentinya aku menangis, memohon ‘keadilan’ dari Tuhan. To be honest, aku memang merasa hidup begitu nggak adil pada saat itu.
Sekarang, setelah beberapa bulan berlalu, aku mulai melihat bahwa hidup memang banyak sekali menyimpan misteri. Kita harus menjalani, merasakan dan mengalaminya sendiri untuk mengetahuinya. Keadaan sedikit berbalik. Apa yang tadinya tampak sebagai sebuah berkah bagi keluarga istimewa tadi berbalik jadi sesuatu yang sangat, sangat berat. Aku sendiri, maksudnya jika aku yang harus mengalaminya, entahlah, mungkin sudah menyerah. Aku nggak tahu bisa tahan atau nggak mengalami situasi yang sama. Sebaliknya, keadaanku yang tadinya nggak bagus-bagus amat, mulai mengalami peningkatan. Hal-hal yang tadinya kulihat sebagai God’s pause dalam hidup, sekarang mulai bicara tentang sukacita dan kebahagiaan, walaupun sejujurnya aku belum merasakannya seutuhnya – menurut pandangan pribadiku.
Aku nggak tahu apa maksud Tuhan dalam hidup kami –aku dan keluargaku. Banyak hal yang masih kutanyakan dan kugumuli saat ini. Ada yang membingungkan dan gak dijawab-jawab, ada yang dijawab tapi kemudian samar, ada yang .. ah, entahlah. Aku bener-bener gak punya ide tentang what this is all about. Mungkin yang ada kita harus menjalaninya dulu. Setelah sampai di sebuah titik, kita nggak boleh lantas berdiam atau berpuas diri, tapi harus terus meningkatkan diri, dan bertumbuh secara pribadi. Kita juga nggak bisa menilai sesuatu itu baik atau buruk hanya dengan melihat sebagian kisahnya, karena kita belum tahu gambaran keseluruhannya. Apa yang kita lihat saat ini barulah sedikit dari apa yang sedang Tuhan siapkan bagi kita.
Aku jadi membayangkan Yusuf. Mungkin beginilah perasaannya ketika dia dipenjara. Tuhan sepertinya jauh. Orang tua nggak bisa menolong. Orang yang seharusnya menolong malahan melupakannya. Sepertinya gak ada harapan sama sekali. Tapi nyatanya, Tuhan bekerja melalui saat-saat seperti itu untuk membentuk pribadinya. Kalo aku yang jadi Yusuf, entahlah, sudah merajuk, meratapi nasib, ngedumel, menyalahkan orang lain, mungkin malah mencoba bunuh diri! Itulah sebabnya maka Yusuf yang harus mengalami hal itu, bukan aku, karena Tuhan tahu bagaimana ‘mengutak-atik’ hidup seseorang. Dia tahu ‘apa’ dan ‘mengapa’nya tentang kita dan Dia ingin melakukan yang terbaik. Karena kita terbatas, jadi kita keburu menghakimi peristiwa-peristiwa yang kita alami. Padahal, hidup kerap menyimpan misteri Illahi. Penderitaan pun dapat menjadi berkah yang menyamar dan apa yang tampak sebagai kebahagiaan bisa saja ternyata menyimpan duka. Hidup seringkali hanya menyisakan sedikit informasi untuk kita. Yang lainnya harus kita cari tahu sendiri. Biasanya, kita nggak tahu alasan yang mendasari, namun menilai. Kita nggak tahu tujuannya, namun mengeluh. Kita hanya melihat proses dan berteriak nggak tahan pada Tuhan. Aarrgh!
Ok. Bicara memang mudah. Menjalaninya yang sukar. Pemahamanku mungkin sampe ke arah sana, namun perasaanku tidak. Aku harus banyak berhenti, menoleh ke belakang untuk mempelajari apa yang sedang terjadi dalam hidupku. Aku tahu bahwa semua yang terjadi dirangkai Tuhan untuk membentuk sebuah gambaran yang indah dari bejana yang mau dipakai Tuhan. Namun dalam prosesnya, aku seringkali mengeluh kesakitan, nggak tahan, berteriak, menangis, menjerit, meratap. Aku nggak tahu sampai kapan semua ini harus terjadi. Entahlah. Namun yeah, bagaimanapun akan kujalani. Dia Tuhan, biarlah dilakukanNya apa yang dipandangNya baik (I Sam 3:18). Tetapi jika Ia berfirman, begini : ‘Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukanNya kepadaku apa yang baik di mataNya’ (II Sam 15:26).
So, be it unto me, Lord, according to Thy will.
Speak, Lord, cause Thy servant heareth..