Pepatah ini emang bener banget, walaupun dalam kenyataannya hampir gak mungkin.
Seorang teman, yang bekerja di sebuah toko buku yang punya penerbitan sendiri bilang bahwa cara mereka memilih buku adalah dengan melihat cover-nya. Masalah isi nomer dua, yang penting cover menarik, mereka akan ambil. Aku tau banget karena dulu sempet berencana mengirim naskah bukuku ke penerbitan tersebut.
Yeah.. pepatah emang klise kadang..
Tapi nggak sepenuhnya salah sih. Pernah, aku beli buku murah (cuma sepuluh ribu kalo gak salah), di sebuah toko buku murah di daerah Pasar Festival (buku bekas kali yee, tapi masih bagus banget, asli!). Sampulnya biasaaaaa banget, gak ada keren-kerennya, tapi isinya.. whoo hoo.. inspiring banget!!!!
Demikian juga kadang kita menilai orang. Kita melihat tampak depannya dan langsung men-judge ‘isi’nya. Padahal seringnya, tampak luar nggak sepenuhnya menyatakan apa yang ada di dalam. Memang apa yang ada di hati akan terpancar keluar. Tapi kan kita manusia yang kompleks.. jadi gak bisa disama-ratakan gitu aja dong..
Selain melihat tampilannya, mungkin kita juga perlu mengerti apa latar belakang seseorang sehingga dia bersikap demikian. Walaupun sejujurnya.. susye bener untuk melakukannya. Ada orang-orang yang suka membingungkan cara berpikirnya. Kalo ngomong nyakitiiiin mulu, sikapnya nyebeliiiiiin melulu. Tapi, setelah ditelaah (bukan diterawang! -smile-), ternyata di dalam hatinya orang itu menyimpan luka / terbiasa disakiti.
Bener kata Rick Warren : Hurt people hurt people.
Jadi, kalo ada orang yang sering nyakitin kita, belum tentu dia bermaksud demikian. Bisa jadi itu karena akumulasi luka dalam jiwanya yang belum selesai dibereskan. Jangan buru-buru benci, marah atau kesel kalee. Lebih baik kasihani orang itu, karena dia memang patut dikasihani. Di balik perkataan atau perlakuan yang menyakitkan, biasanya ada hati yang terluka..
Kalo kita cuma bisa benci dan sakit hati sama orang-orang yang kayak gitu, yang ada kita hanya akan berputar dalam lingkarannya. Pada lain kesempatan, kita akan menuntut hutang emosional yang orang-orang itu lakukan pada kita. Dan kita akan bersikap persis sama dengan mereka yang telah menyakiti kita. Jadi, apa bedanya kita dengan mereka?
Please deh.. untuk hal-hal seperti ini, kita memang harus mengalami yang pahit-pahit dulu untuk bisa mengambil hikmahnya. Sebelum kita disakiti, dan sebelum kita dipulihkan dari rasa sakit itu, kita belum mengetahui apa-apa tentang kompleksitas kehidupan manusia..
Trust me!
