Ternyata, menikah itu asyik juga. Sekarang, jadi ada yang bisa meluk tiap malem, ada bahu yang selalu siap jadi sandaran saat pengen nangis sepuasnya, trus.. ada yang bisa dimintain duit kalo aku abis duit hehehehe.
Konon, menikah itu ibarat membuka kotak Pandora. Akan terjadi sesuatu yang gak bisa dibayangkan sebelum kita membukanya. Banyak orang bilang ‘puas-puasin dulu deh masa lajang, jangan keburu menikah. Ngapain? Tar nyesel lo..’ Aku juga sempat gamang waktu mo kawin. ‘Bener gitu gak sih hidup pernikahan itu? Emang bener seperti yang dibilang orang atau hanya issue aja?’
Sekarang, setelah melalui setahun lebih kehidupan berumah tangga, baru bisa cerita deh yang sebenarnya terjadi.. Buat orang yang takut berkomitmen, menikah mungkin gak gampang, tapi buat orang yang siap untuk mengikatkan dirinya dengan orang yang dicintai, asyik-asyik aja kok. Buktinya soal kebahagiaan. Kalo dulu aku –seorang yang individual- sangat mengutamakan kebutuhanku, perasaanku, kebutuhanku, kebahagiaanku, impianku, harapanku, pokoknya semua tentang aku, sekarang semua itu sudah berubah. Semua tentang aku sudah bukan prioritas lagi. Aku lebih condong memikirkan apa yang dirasakan oleh suamiku. Kebahagiaanku bukan lagi kebahagiaan jika suamiku gak merasakan hal yang sama. Perasaan dan pikiranku bukan lagi prioritas jika suamiku punya alasan yang tepat untuk menentangnya. Bahkan, aku rela melepaskan apa yang jadi kebahagiaanku jika orang yang kucintai tak merasa nyaman dengan hal itu.
Mungkin ini terdengar absurd bagi mereka yang merasa berjiwa mandiri dan nggak butuh orang lain, tapi jika seseorang sudah siap membina hubungan dan berkomitmen dengan orang yang dikasihi, percayalah, hal ini sama sekali bukan sesuatu yang impossible dan konyol, melainkan nyata, senyata matahari yang bersinar tiap pagi.
Aku juga tadinya merasa begitu. Ngapain kita harus berkorban buat orang lain? Ngapain kita harus mempertaruhkan sesuatu yang kita hargai hanya karena orang lain tidak setuju? Ada-ada aja.. Tapi sekarang, paradigmaku sudah berubah. Pandanganku tentang hal itu sudah sangat bergeser lebih maju –atau mundur?:)-. Buat aku sekarang ini, apa sih esensi kebahagiaan jika hidup ini tak dapat kita bagi dengan orang lain? Apa sih arti kehidupan yang singkat ini jika dengan orang yang kita kasihi saja kita tak dapat memberikan yang terbaik? Jika suatu saat kita kembali ke sorga, apa yang akan kita tinggalkan pada mereka yang kita kasihi?
Banyak alasan membuat kita mungkin merasa tak cukup untuk berbagi kehidupan. Tapi hidup ini bukanlah milik kita sendiri. Hidup adalah pemberian Illahi yang harus kita pergunakan untuk kemuliaan NamaNya. Mungkin kita nggak cukup baik bagi orang lain. Mungkin kita belum sempurna, tapi jika kita berani mengakui kekurangan kita dan berbagi hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, aku percaya kita sudah mencapai tahapan tertinggi dalam kehidupan. Apa bukti kita mengasihi Tuhan selain dengan menunjukkan kasih kita pada sesama? Bukankah dengan demikian kita sudah melakukan prinsip dan hukum kasih dalam hidup ini?
Mungkin ini renungan sederhana yang sangat biasa, namun artinya mengandung paradoks yang membingungkan jika kita tak bersedia menjiwainya dengan sungguh. Bukankah cinta adalah anugerah terbesar dalam hidup? Kita tak perlu mengikuti apa yang orang lain lakukan jika kita tak mau, tapi jika kita melihat teladan yang baik dan bersedia melakukannya dalam hidup, apalagi jika kita sendiri yang menjadi teladannya, alangkah semakin berartinya hidup ini!
PS: Bagi Anda yang berencana menikah, jangan takut, go ahead for it, tapi bagi Anda yang berencana untuk gak buru-buru dan tinggal dalam masa lajang, gak salah juga kok.. Toh apapun status kita, kita tetap bisa merasakan kebahagiaan dan memuliakan Tuhan dengan cara dan pemahaman yang kita dapat secara pribadi..
Have a nice day! J