Tadi gak sengaja baca update status temen di FB yang menyatakan bahwa dirinya lagi hamil. Seharusnya sih seneng, kata banyak orang yang mensupport dan memberi selamat, tapii kata yang punya status : ‘I’m not ready yet…’. Nah lho..
Aku jadi berpikir banyak tentang proses terjadinya seorang manusia. Ada yang terjadi karena memang diharapkan/ sengaja dibuat, ada yang sama sekali bukan keinginannya, ada juga yang gak sengaja kayak kasusku dan sohibku tadi. Tapi aku bukan seorang yang percaya akan adanya kebetulan. Bagiku, tidak ada satupun yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Ada Sepasang Tangan yang merencanakan dan membentuk — atau paling tidak mengijinkan– segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini.
Aku percaya bahwa Allah telah melihat setiap peristiwa yang akan terjadi dalam hidup kita. Bahkan setiap kita dirancang dan ditenun dalam kandungan ibu kita, jadi tidak ada orang yang terlahir karena ‘kecelakaan’ atau ketidak sengajaan. Walaupun kadang kita memang melihat ada orang-orang yang sepertinya terlahir kurang beruntung atau semacam itu, tetap saja, it’s just a matter of the way we think. Betapa ajaib rancangan Tuhan dalam hidup setiap orang. Seharusnya kita semua menyadarinya!
Well, anak-anakku misalnya. Mereka terlahir kembar. Who knows? Dalam jutaan tahun cahaya pun aku gak akan pernah memimpikan punya anak kembar. Tapi toh Tuhan mengirimkan mereka buat kami. Trus, banyak orang berkomentar kalo kedua-duanya bener-bener mirip aku. Sama sekali gak ada yang dibuang dari aku, gak ada yang mirip bapaknya, kata mereka. Yee.. emang kita bisa milih muka anak kita nantinya? Sekali lagi, ini juga perbuatan Tuhan, bukan? Masalah perempuan atau laki-laki, bentuk badannya, jenis kulitnya, tulang2nya dsb, semua itu kita gak bisa milih. Kita cuma taunya bikin, dan entah gimana.. sim salabim pas salonpas, jadi! Sembilan bulan kemudian, lahir! Bener gak? Berarti nyata dong kalo kita ini gak berkuasa apa-apa atas diri kita. Jadi mungkin yang harus kita lakukan adalah mensyukuri apa yang ada. Setiap pemberian yang terbaik toh datangnya dari atas, tempat Tuhan segala tuhan berdiam.
Tidak akan ada hidup yang nggak berguna jika kita bisa mempergunakan waktu yang ada dengan baik. Jika kita bisa melihat jawaban dalam setiap persoalan. Jika kita bisa meluangkan waktu untuk berpikir dan merenungkan semua perbuatan Tuhan yang ajaib, jika kita bisa melihat potensi dan kesempatan ketimbang penderitaan. Aku juga pengen live the best life I can be. Hanya saja, Iblis seringkali mengalihkan perhatian kita dari hal-hal semacam itu. Ia terus memanipulasi kita dengan betapa berat penderitaan kita. Dia membuat kita melihat hal2 yang tidak kita miliki (ketimbang apa yang kita miliki -yang biasanya justru lebih banyak!), dan membuat kita nggak bisa bersyukur. Padahal, friends, hidup akan terlihat lebih indah jika kita memandangnya dengan cara yang berbeda. Dengan cara pandang orang cacat, misalnya, atau cara pandang anak yatim, atau kaum dhuafa. Mereka akan melihat bahwa hidup kita ini sungguuuuh beruntung ketimbang hidup mereka..
Yeah.. semoga kita semua benar-benar menyadari kenyataan yang sebenarnya, yaitu bahwa hidup kita berarti. Jauh dari apa yang kita rasakan sekarang, ada sesuatu yang lebih besar dari kita yang harus kita jalani, yaitu Destiny. Jika kita bisa memandang jauh ke depan, melalui segala persoalan dan rintangan, dan fokus pada tujuan tersebut, kita akan menemukan bahwa hidup kita berharga. Ada sesuatu yang really worth it! Namun jika pandangan kita pendek, hanya sebatas masalah-masalah yang tampaknya tak berkesudahan tersebut, maka kita hanya akan menjalani hidup sebagai korban..
Life is just a work in progress. A progress with sooo many changes tentunya hehehe. Karena kalo progress-nya salah, apa artinya dong making progress. Mungkin yang penting adalah kebijaksanaan untuk memandang setiap hal sebagaimana Allah memandangnya, bukan sebagaimana kita memandangnya.. Percayalah bahwa dalam setiap tahapan kehidupan, ada persoalannya masing-masing, jadi kita bisa lebih bersyukur dalam tahapan kehidupan yang sedang kita lalui.
Amen?
